‘Padang Bulan‘ berkisah tentang seorang gadis kecil bernama Enong yang sangat gemar belajar Bahasa Inggris, namun terpaksa berhenti sekolah. Sedangkan cerita kedua fokus tentang kisah perjalanan nasib Enong.
Andrea menulis dua cerita itu melalui riset panjang selama tiga tahun di daerah Manggar, Belitong. Ia melebur ke dalam kehidupan asli masyarakat di kampung halamannya untuk mendapatkan kekuatan emosi dalam tulisannya. “Meski risetnya tiga tahun, saya nulisnya cuma tiga minggu,” ujarnya.
Andrea berharap novel yang membidik sebuah gambaran yang tepat tentang semangat masyarakat Indonesia ini kembali memberi warna dunia kesusastraan tanah air. Ia ingin menginspirasi generasi muda melalui sebuah cerita.
Ia pun senang karena dalam tiga minggu sejak peluncuran, novelnya sudah terjual 20 ribu kopi. “Tapi saya sayangkan pagi tadi, saya dapat kabar di Stasiun Bogor sudah ada bajakan ‘Padang Bulan’. Bukan apa-apa, karena royaltinya buat perpustakaan sekolah di Belitong,” ujarnya.
Setelah sukses dengan tetralogi ‘Laskar Pelangi‘, Andrea Hirata kembali menyapa penggemarnya dengan novel terbaru ‘Padang Bulan’. Ia konsisten menghadirkan novel dengan gambaran inspiratif beraroma pendidikan.
“Novel ini untuk menginspirasi siswa agar jangan takut belajar,” kata Andrea dalam acara jumpa penulis di Kemang Village, Jakarta Selatan, Minggu, 18 Juli 2010.
Novel dwilogi ini terdiri dari dua bingkai cerita yang dijilid dalam satu buku. Cerita pertama berjudul ‘Padang Bulan’ setebal 253 halaman. Cerita kedua ‘Cinta di Dalam Gelas’ setebal 270 halaman










