Indonesia memerlukan peraturan tembakau ketat untuk melindungi warga negaranya dari kecanduan rokok dan penyakit yang berhubungan dengan merokok, seorang pejabat mengatakan.
Tubagus Haryo Karbyanto, wakil ketua Forum Warga Jakarta (Fakta) dan anggota komisi pengawasan tembakau, mengatakan Sabtu dia berharap Departemen Kesehatan dapat ujung tombak kampanye anti-tembakau antar-departemen.
Departemen Kesehatan belum menerima respons atas sebuah rancangan peraturan tembakau sebelumnya disampaikan kepada menteri koordinator kesejahteraan publik, katanya.
“Itu semua tergantung pada kemauan politik dari Departemen Kesehatan. Mereka dapat menekan departemen lain dukungan, “kata Tubagus.
Indonesia masih belum memiliki undang-undang yang ketat untuk pengendalian tembakau dan rokok lainnya daripada peraturan yang mewajibkan bungkus rokok yang menampilkan pesan peringatan kesehatan, tambahnya.
Tubagus mengatakan Indonesia tidak melarang iklan rokok, promosi dan sponsor, juga tak meratifikasi WHO Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau yang sangat membatasi pemasaran dan iklan rokok.
“Ada upaya untuk menunda pembahasan RUU tentang dampak kesehatan merokok”, kata Karbyanto.
Beberapa perusahaan rokok meluncurkan kampanye yang berpendapat bahwa para petani akan menderita jika peraturan apapun yang dikeluarkan, katanya.
Sebuah studi baru-baru ini oleh Universitas Indonesia Sekolah Demografi menunjukkan bahwa 65 persen dari petani tembakau di negara itu ingin menanam tanaman lain atau mencari pekerjaan baru yang terkait dengan perdagangan, peneliti kata Abdillah Ahsan.
“Sebagian besar dari mereka ingin beralih dari tembakau kepada beras, jagung, sayuran atau kacang pertanian,” tambahnya.
Hampir 70 persen rumah tangga Indonesia membeli produk tembakau, menurut laporan itu.
Rumah tangga berpendapatan rendah membelanjakan 17 kali lebih banyak tembakau dibandingkan pada daging, 15 kali lebih besar daripada bagi kesehatan, dan sembilan kali lebih besar daripada bagi pendidikan. Jumlah perokok dari golongan berpenghasilan rendah mencapai 12.600.000, menurut survei.
Dalam rumah tangga termiskin, pengeluaran rokok adalah lebih suka sesuatu yang bisa mendukung mereka besok – investasi, kata Abdillah.
“Bayangkan bahwa orang-orang kehilangan kesempatan untuk pendidikan renovasi rumah, atau bahkan ziarah haji sebagai ganti merokok satu bungkus rokok setiap hari selama 10 tahun,” kata Abdillah










